Joya.

Ibunya Newwiee.

[Deeper]

•••

Sebuah lengkungan manis masih setia menghiasi wajah pemuda berkulit bersih seputih salju tengah mengunyah kentang goreng yang berada di depannya, iris kelabunya tak pula mau beralih dari seorang lelaki berkulit tan yang berada di seberang barang sekejap saja.

“Tawan makannya dikit banget, ntar habis sama aku semua nih.” Ia bersuara.

“Aku beli buat kamu Thi, jadi kalau kamu habisin aku yang seneng. Makasih ya udah meng-iyakan ajakan aku.”

Sebuah anggukan terlihat dari si manis, semilir angin di sore hari menerpa wajahnya pula berhasil menyingkirkan poni rapi yang begitu sempurna menutupi dahinya, “Tawan duduk di samping aku, sini, kita liat danau berdua.” Thi menepuk alas yang berada di sebelahnya.

Tak ada protesan apapun yang keluar dari mulut pria berkulit tan itu, ia benar-benar menurut—bangkit dari tempatnya dan langsung mendaratkan bokongnya di samping si manis.

“Aku tuh terakhir piknik pas SD deh, udah lama banget.”

“Oh ya?”

Thi mengangguk sembari menoleh ke kanan, menatap yang lebih tua dengan seulas senyum tipis, “Iya, pas aku masih punya keluarga lengkap.”

“Kalau Thi gak nyaman, gausah diceritain juga gak apa-apa.” Tay berujar dengan tutur begitu lembut.

“Teta gak mau dengerin cerita aku, ya?”

Ditanya seperti itu membuat yang lebih tua langsung gelagapan sendiri, sontak saja ia menggelengkan kepalanya cepat-cepat, “Bukan gitu Thi, aku gak mau maksa kamu untuk cerita hal yang gak ingin kamu bagi ke aku.”

“Tapi aku mau bagi ceritaku sama Tetaa, boleh?”

“Boleh banget, tapi...” yang lebih tua menggantungkan ucapannya, menatap si manis dengan kedua mata memicing, “Kamu manggil aku apa tadi? Teta?”

Thi terkekeh kecil, “Lucu gak?” Ia bertanya, “Teta.”

“Di mana bagian yang lucunya?” Tay bernar-benar bertanya membuat lelaki manis yang berada di sampingnya langsung memajukan bibir lima senti lengkap dengan sinisan tajam.

“Lucu banget.”

“Kamu manggil aku Thi, itu aja udah beda dari yang lain.”

“Jadi kamu manggil aku Teta karena mau beda juga?”

“Iya! karena kata kita diantara aku dan kamu bentar lagi bakalan ada.” Thi menjawab dengan santai.

“Kamu jadi lanjutin ceritanya, gak?”

Sepasang mata yang menyipit sedikit menyembunyikan iris kelabu paling cantik yang pernah ia lihat, kekehan dari yang muda terdengar. “Jadi lupa gara-gara nama Teta.”

“Pas aku masih kecil sampe SD kelas lima deh kalau gak salah, setiap Ayah punya waktu luang, beliau bakalan ngajakin aku sama Ibu untuk piknik atau sekedar jalan-jalan aja.”

“Hidup aku tuh dulu sempurna banget pokoknya, apa yang aku mau akan dengan begitu mudahnya bisa aku dapetin, kayak aku baru bilang mau ini beberapa jam kemudian aku udah punya apa yang aku minta tadi.”

“Sampai kesempurnaan yang aku rasain itu tiba-tiba hilang entah kemana, pergi tanpa aba-aba sebelumnya, kebahagiaan yang aku rasain itu benar-benar lenyap gak bersisa. Bahkan orang yang dulu selalu aku jadikan tempat mengadu perlahan mulai hilang.”

“Gak benar-benar hilang, maksud aku Ayah ku yang dulu dan yang sekarang itu kayak dua orang dengan kepribadian yang super berbeda. Sejak malam di mana pertama kali aku liat Ibu nangis kenceng banget aku ngerasa kalau aku sejak itu cuma tinggal berdua sama Ibu.”

“Aku ngerasa kalau aku emang udah gak punya sosok Ayah.”

Kedua kelopak mata si manis berkedip beberapa kali, pandangannya benar-benar lurus ke depan, memandangi pemandangan danau yang begitu indah di pandang mata.

“Aku dari dulu udah keseringan nangis jadi sekarang stock air mataku tinggal dikit banget. Tapi, dari semua hal buruk yang pernah beliau lakuin ke aku dan Ibu, yang paling membekas di ingatan aku adalah saat Ayah marah sampai neriakin Ibu di depan banyak orang.”

“Padahal niatnya mau makan malam di luar karena malam itu hari ulang tahun aku, menurutku gak ada hal paling bangsat selain makan sambil nahan tangis, sesak banget rasanya sampe mau ngunyah makanan yang di dalam mulut aja tuh kayak gak sanggup.”

“Sampai lambat laun aku mulai paham tentang masalah di keluarga ku, aku mulai tau apa yang terjadi.”

“Kalau Teta mau tau, temen aku tuh cuma Gun. Bener-bener cuma Gun karena aku memang terlalu menutup diri sama orang baru, terlalu berlebihan gak kalau aku bilang Gun satu-satunya hal yang aku syukuri saat aku masuk ke SMP negeri.”

“Aku bisa berteman sama siapa aja, tapi aku gak bisa atau lebih tepatnya gak mempersilahkan mereka untuk bisa benar-benar kenal aku.”

“Sebelum pindah di rumah yang sekarang, aku bahkan gak pernah ngajak satu orang pun teman sekolahnya aku untuk main kerumah, termasuk Gun. Karena aku gak mau mereka tau bagaimana sifat Ayahku.”

“Aku durhaka gak sih Ta karena semenjak kejadian di malam ulang tahun itu aku gak pernah lagi manggil beliau Ayah di depannya. Karna dulu aku tuh kesel, aku marah, aku kecewa, kenapa harus marah di luar padahal setiap hari udah marahin Ibu di rumah.”

“Malu banget rasanya udah kayak gak ada muka. Pun dengan sampai sekarang aku gak pernah mau lagi menginjakkan kaki aku di restaurant itu.”

Usapan dibagian bahu si manis membuatnya menoleh ke samping, “Teta kasihan sama aku?”

“Enggak, aku gak mengasihani kamu. Kamu bisa berhenti sampai di sini kalau kamu mau.”

“Kenapa? Cerita aku banyak dramanya ya?”

“Kamu boleh lanjut, kamu boleh bagiin ke aku apa yang ingin kamu bagi.” Yang lebih tua bersuara, lagi.

“Gak jelas banget kamu, tadi nyuruh berhenti sekarang nyuruh lanjut.” Omel Thitipoom sembari terkekeh pelan.

“Aku lanjut ya?”

Setelah anggukan dari Tay terlihat, pemuda berkulit seputih salju itu kembali bersuara, “Aku tuh dulu heran banget kenapa Ibu masih mau bertahan sama Ayah, sampai aku tau alasannya kenapa.”

“Ibu mikirin anaknya, Ibu mikirin aku. Seharusnya sebelum Ibu mikirin aku, Ibu terlebih dahulu harus memikirkan dirinya sendiri. Ibu bilang Kalau Ibu sama Ayah udah gak sama-sama, nanti kamu kehilangan arti dari kata keluarga padahal dengan mereka memaksakan diri untuk tetap bersama pun aku udah gak tau arti keluarga itu kayak gimana.”

“Maaf banget ya Thi, jadi Ibu sama Ayah kamu tuh pisah kan?”

Thi langsung mengangguk dua kali, membenarkan ucapan lelaki yang berada di sebelah kirinya. “Bener-bener pisah itu aku kelas dua SMA.”

“Sekarang aku udah berdamai sama masalalu, makanya aku bisa nyeritain semuanya ke kamu, aku udah gak lagi nyalahin Ayah, tapi buat ketemu sama beliau rasanya canggung banget.”

“Tujuanku dulu tuh cuma untuk nyenengin Ibu, tapi sekarang kayaknya bakalan nambah satu.”

“Nyenengin Ibu dan kamu.”

•••

“Thi coba liat aku.”

Yang muda langsung memutar sedikit posisinya agar mereka saling berhadapan satu sama lain, iris kelabu itu langsung bertemu dengan pasangannya.

“Kamu sadar gak kalau kamu tuh aneh, bukan aneh sih lebih ke unik.”

Kerutan di dahi si manis langsung terlihat, benar-benar tak mengerti maksud dari Tay tawan. “Kamu mau ngegombal lagi?”

“Enggak, kali ini aku mau serius.”

“Kalau Teta mau serius datengin Ibu aku.”

“Yang ada aku di kejar pake parang sama mas Rendra nikahin kamu tahun ini.”

“Lho, kenapa?”

“Karena pas aku ngasih liat foto kamu, mas Rendra langsung ngamuk ngiranya aku petrusin anak SMA.”

Tawa si manis langsung memasuki indera pendengaran Tay tawan.

“Cantik banget ini manusia.”

“Awet muda ya aku ini.”

“Kan kamu emang masih muda Thi?”

“Oh iya, yang udah tua kan Teta.”

Lagi-lagi gelak tawa itu tercipta bersamaan dengan menyipitnya kedua mata.

“Gue mau marah juga gak bisa kalau begini anjir.”

“Lagian kamu udah bahas nikah segala, kita aja belum pacar-”

“Ya makanya pacarin aku.” Potong Thi dengan santai sembari mengunyah salah satu makanan yang di belikan Tay tawan untuknya.

“Emang kalau sekarang banget, mau?”

Thi hanya mengulas senyum manis.

“Thi masi penasaran kenapa kamu bilang aku aneh.” Ia bersuara.

“Matahari udah turun nih, ayo pulang.”

“Tetaaa....” Si manis meringik membuat Tay terkekeh pelan, “Jawab dulu ih kenapa aneh? Aku kemal.”

“Kemal siapanya kamu?” Kamu deket sama Kemal tapi juga lagi deket sama aku? Iya Thi?”

Thi menghela napas panjang, “Dasar orang tua ketinggalan jaman, kemal itu artinya kepo maksimal.”

“Ooh hahahaha, kirain kamu juga lagi deket sama si Kemal.”

“Jadi, kenapa Thi aneh?”

“Unik.”

“Iya, kenapa unik?”

Sepasang netra hitam pekat itu menelisik wajah yang lebih muda, tak jua bersuara untuk beberapa menit lamanya, “Kamu tuh ganteng tapi kenapa cantik juga?”

“Apaansih, mana ada!”

Thi salah tingkah.

“Thi cantik.”

“Enggak.” Ia masih membantah.

Kini giliran tawa Tay yang meledak melihat wajah Thitipoom-nya semerah tomat-menjalar ke kedua telinganya.

“Cantik banget ya Tuhan.”

“Thitipoom cantik, aku boleh nanya?”

“Aku gak cantik, mau nanya apa?”

“Mau ya aku perjuangin?”

Jika biasanya Tay tawan yang acap terdiap karena ucapan pujaan hatinya, maka kini Thi gilirannya, pemuda berkulit putih bersih itu benar-benar mematung setelah mendengar pertanyaan yang keluar dari mulut manusia yang berada di depannya.

“Thi?”

“Kenapa aku?”

“Kalau bukan kamu, siapa lagi yang aku perjuangin?”

Yang muda menganggukkan kepalanya beberapa kali, hingga akhirnya ia menjawab, dan Tay tawan langsung kehilangan seluruh kata-katanya.

“Gimana kalau kita berjuang sama-sama?”

•••

-Joya-

•••

Sebuah lengkungan manis masih setia menghiasi wajah pemuda berkulit bersih seputih salju yang tengah mengunyah kentang goreng yang berada di depannya, iris kelabunya tak pula mau beralih dari seorang lelaki berkulit tan yang berada di seberangnya barang sekejap saja.

“Tawan makannya dikit banget, ntar habis sama aku semua nih.” Ia bersuara.

“Aku beli buat kamu Thi, jadi kalau kamu habisin aku yang seneng. Makasih ya udah meng-iyakan ajakan aku.”

Sebuah anggukan terlihat dari si manis, semilir angin di sore hari menerpa wajahnya pula berhasil menyingkirkan poni rapi yang begitu sempurna menutupi dahinya, “Tawan duduk di samping aku, sini, kita liat danau berdua.” Thi menepuk alas yang berada di sebelahnya.

Tak ada protesan apapun yang keluar dari mulut pria berkulit tan itu, ia benar-benar menurut-bangkit dari tempatnya dan langsung mendaratkan bokongnya di samping si manis.

“Aku tuh terakhir piknik pas SD deh, udah lama banget.”

“Oh ya?”

Thi mengangguk sembari menoleh ke kanan, menatap yang lebih tua dengan seulas senyum tipis, “Iya, pas aku masih punya keluarga lengkap.”

“Kalau Thi gak nyaman, gausah diceritain juga gak apa-apa.” Tay berujar dengan tutur begitu lembut.

“Teta gak mau dengerin cerita aku, ya?”

Ditanya seperti itu membuat yang lebih tua langsung gelagapan sendiri, sontak saja ia menggelengkan kepalanya cepat-cepat, “Bukan gitu Thi, aku gak mau maksa kamu untuk cerita hal yang gak ingin kamu bagi ke aku.”

“Tapi aku mau bagi ceritaku sama Tetaa, boleh?”

“Boleh banget, tapi...” yang lebih tua menggantungkan ucapannya, menatap si manis dengan kedua mata memicing, “Kamu manggil aku apa tadi? Teta?”

Thi terkekeh kecil, “Lucu gak?” Ia bertanya, “Teta.”

“Di mana bagian yang lucunya?” Tay bernar-benar bertanya membuat lelaki manis yang berada di sampingnya langsung memajukan bibir lima senti lengkap dengan sinisan tajam.

“Lucu banget.”

“Kamu manggil aku Thi, itu aja udah beda dari yang lain.”

“Jadi kamu manggil aku Teta karena mau beda juga?”

“Iya! karena kata kita diantara aku dan kamu bentar lagi bakalan ada.” Thi menjawab dengan santai.

“Kamu jadi lanjutin ceritanya, gak?”

Sepasang mata yang menyipit sedikit menyembunyikan iris kelabu paling cantik yang pernah ia lihat, kekehan dari yang muda terdengar. “Jadi lupa gara-gara nama Teta.”

“Pas aku masih kecil sampe SD kelas lima deh kalau gak salah, setiap Ayah punya waktu luang, beliau bakalan ngajakin aku sama Ibu untuk piknik atau sekedar jalan-jalan aja.”

“Hidup aku tuh dulu sempurna banget deh pokoknya, apa yang aku mau akan dengan begitu mudahnya bisa aku dapetin, kayak aku baru bilang mau ini beberapa jam kemudian aku udah punya apa yang aku minta tadi.”

“Sampai kesempurnaan yang aku rasain itu tiba-tiba hilang entah kemana, pergi tanpa aba-aba sebelumnya, kebahagiaan yang aku rasain itu benar-benar lenyap gak bersisa. Bahkan orang yang dulu selalu aku jadikan tempat mengadu perlahan mulai hilang.”

“Gak benar-benar hilang, maksud aku Ayah ku yang dulu dan yang sekarang itu kayak dua orang dengan kepribadian yang super berbeda. Sejak malam di mana pertama kali aku liat Ibu nangis kenceng banget aku ngerasa kalau aku sejak itu cuma tinggal berdua sama Ibu.”

“Aku ngerasa kalau aku emang udah gak punya sosok Ayah.”

Kedua kelopak mata si manis berkedip beberapa kali, pandangannya benar-benar lurus ke depan, memandangi pemandangan danau buatan yang begitu indah terawat.

“Aku dari dulu udah keseringan nangis jadi sekarang stock air mataku tinggal dikit banget. Tapi, dari semua hal buruk yang pernah beliau lakuin ke aku dan Ibu, yang paling membekas di ingatan aku adalah saat Ayah marahin sampai neriakin Ibu di depan banyak orang.”

“Padahal niatnya mau makan malam di luar karena malam itu hari ulang tahun aku, menurutku gak ada hal paling bangsat selain makan sambil nahan tangis, sesak banget rasanya sampe mau ngunyah makanan yang di dalam mulut aja tuh kayak gak sanggup.”

“Sampai lambat laun aku mulai paham tentang masalah di keluarga ku, aku mulai tau apa yang terjadi.”

“Kalau Teta mau tau, temen aku tuh cuma Gun. Bener-bener cuma Gun karena aku memang terlalu menutup diri sama orang baru, terlalu berlebihan gak kalau aku bilang Gun satu-satunya hal yang aku syukuri saat aku masuk ke SMP negeri.”

“Aku bisa berteman sama siapa aja, tapi aku gak bisa atau lebih tepatnya gak mempersilahkan mereka untuk bisa benar-benar kenal aku.”

“Sebelum pindah di rumah yang sekarang, aku bahkan gak pernah ngajak satu orang pun teman sekolahnya aku untuk main kerumah, termasuk Gun. Karena aku gak mau mereka tau bagaimana sifat Ayahku.”

“Aku durhaka gak sih Ta karena semenjak kejadian di malam ulang tahun itu aku gak pernah lagi manggil beliau Ayah di depannya. Karna aku tuh kesel, aku marah, aku kecewa, kenapa harus marah di luar padahal setiap hari udah marahin Ibu di rumah.”

“Malu banget rasanya udah kayak gak ada muka. Pun dengan sampai sekarang aku gak pernah mau lagi menginjakkan kaki aku di restaurant itu.”

Usapan dibagian bahu si manis membuatnya menoleh ke samping, “Teta kasihan sama aku?”

“Enggak, aku gak mengasihani kamu. Kamu bisa berhenti sampai di sini kalau kamu mau.”

“Kenapa? Cerita aku banyak dramanya ya?”

“Kamu boleh lanjut, kamu boleh bagiin ke aku apa yang ingin kamu bagi.” Yang lebih tua bersuara, lagi.

“Gak jelas banget kamu, tadi nyuruh berhenti sekarang nyuruh lanjut.” Omel Thitipoom sembari terkekeh pelan.

“Aku lanjut ya?”

Setelah anggukan dari Tay terlihat, pemuda berkulit seputih salju itu kembali bersuara, “Aku tuh dulu heran banget kenapa Ibu masih mau bertahan sama Ayah, sampai aku tau alasannya kenapa.”

“Ibu mikirin anaknya, Ibu mikirin aku. Seharusnya sebelum Ibu mikirin aku, Ibu terlebih dahulu harus memikirkan dirinya sendiri. Ibu bilang Kalau Ibu sama Ayah udah gak sama-sama, nanti kamu kehilangan arti dari kata keluarga padahal dengan mereka memaksakan diri untuk bersama pun aku udah gak tau arti keluarga itu kayak gimana.”

“Maaf banget ya Thi, jadi Ibu sama Ayah kamu tuh pisah kan?”

Thi langsung mengangguk dua kali, membenarkan ucapan lelaki yang berada di sebelah kirinya. “Bener-bener pisah itu aku kelas dua SMA.”

“Sekarang aku udah berdamai sama masalalu, makanya aku bisa nyeritain semuanya ke kamu, aku udah gak lagi nyalahin Ayah, tapi buat ketemu sama beliau rasanya canggung banget.”

“Tujuanku dulu tuh cuma untuk nyenengin Ibu, tapi sekarang kayaknya bakalan nambah satu.”

“Nyenengin Ibu dan kamu.”

•••

•••

Sebuah lengkungan manis masih setia menghiasi wajah pemuda berkulit bersih seputih salju yang tengah mengunyah kentang goreng yang berada di depannya, iris kelabunya tak pula mau beralih dari seorang lelaki berkulit tan yang berada di seberangnya barang sekejap saja.

“Tawan makannya dikit banget, ntar habis sama aku semua nih.” Ia bersuara.

“Aku beli buat kamu Thi, jadi kalau kamu habisin aku yang seneng. Makasih ya udah meng-iyakan ajakan aku.”

Sebuah anggukan terlihat dari si manis, semilir angin di sore hari menerpa wajahnya pula berhasil menyingkirkan poni rapi yang begitu sempurna menutupi dahinya, “Tawan duduk di samping aku, sini, kita liat danau berdua.” Thi menepuk alas yang berada di sebelahnya.

Tak ada protesan apapun yang keluar dari mulut pria berkulit tan itu, ia benar-benar menurut-bangkit dari tempatnya dan langsung mendaratkan bokongnya di samping si manis.

“Aku tuh terakhir piknik pas SD deh, udah lama banget.”

“Oh ya?”

Thi mengangguk sembari menoleh ke kanan, menatap yang lebih tua dengan seulas senyum tipis, “Iya, pas aku masih punya keluarga lengkap.”

“Kalau Thi gak nyaman, gausah diceritain juga gak apa-apa.” Tay berujar dengan tutur begitu lembut.

“Teta gak mau dengerin cerita aku, ya?”

Ditanya seperti itu membuat yang lebih tua langsung gelagapan sendiri, sontak saja ia menggelengkan kepalanya cepat-cepat, “Bukan gitu Thi, aku gak mau maksa kamu untuk cerita hal yang gak ingin kamu bagi ke aku.”

“Tapi aku mau bagi ceritaku sama Tetaa, boleh?”

“Boleh banget, tapi...” yang lebih tua menggantungkan ucapannya, menatap si manis dengan kedua mata memicing, “Kamu manggil aku apa tadi? Teta?”

Thi terkekeh kecil, “Lucu gak?” Ia bertanya, “Teta.”

“Di mana bagian yang lucunya?” Tay bernar-benar bertanya membuat lelaki manis yang berada di sampingnya langsung memajukan bibir lima senti lengkap dengan sinisan tajam.

“Lucu banget.”

“Kamu manggil aku Thi, itu aja udah beda dari yang lain.”

“Jadi kamu manggil aku Teta karena mau beda juga?”

“Iya! karena kata kita diantara aku dan kamu bentar lagi bakalan ada.” Thi menjawab dengan santai.

“Kamu jadi lanjutin ceritanya, gak?”

Sepasang mata yang menyipit sedikit menyembunyikan iris kelabu paling cantik yang pernah ia lihat, kekehan dari yang muda terdengar. “Jadi lupa gara-gara nama Teta.”

“Pas aku masih kecil sampe SD kelas lima deh kalau gak salah, setiap Ayah punya waktu luang, beliau bakalan ngajakin aku sama Ibu untuk piknik atau sekedar jalan-jalan aja.”

“Hidup aku tuh dulu sempurna banget deh pokoknya, apa yang aku mau akan dengan begitu mudahnya bisa aku dapetin, kayak aku baru bilang mau ini beberapa jam kemudian aku udah punya apa yang aku minta tadi.”

“Sampai kesempurnaan yang aku rasain itu tiba-tiba hilang entah kemana, pergi tanpa aba-aba sebelumnya, kebahagiaan yang aku rasain itu benar-benar lenyap gak bersisa. Bahkan orang yang dulu selalu aku jadikan tempat mengadu perlahan mulai hilang.”

“Gak benar-benar hilang, maksud aku Ayah ku yang dulu dan yang sekarang itu kayak dua orang dengan kepribadian yang super berbeda. Sejak malam di mana pertama kali aku liat Ibu nangis kenceng banget aku ngerasa kalau aku sejak itu cuma tinggal berdua sama Ibu.”

“Aku ngerasa kalau aku emang udah gak punya sosok Ayah.”

Kedua kelopak mata si manis berkedip beberapa kali, pandangannya benar-benar lurus ke depan, memandangi pemandangan danau buatan yang begitu indah terawat.

“Aku dari dulu udah keseringan nangis jadi sekarang stock air mataku tinggal dikit banget. Tapi, dari semua hal buruk yang pernah beliau lakuin ke aku dan Ibu, yang paling membekas di ingatan aku adalah saat Ayah marahin sampai neriakin Ibu di depan banyak orang.”

“Padahal niatnya mau makan malam di luar karena malam itu hari ulang tahun aku, menurutku gak ada hal paling bangsat selain makan sambil nahan tangis, sesak banget rasanya sampe mau ngunyah makanan yang di dalam mulut aja tuh kayak gak sanggup.”

“Sampai lambat laun aku mulai paham tentang masalah di keluarga ku, aku mulai tau apa yang terjadi.”

“Kalau Teta mau tau, temen aku tuh cuma Gun. Bener-bener cuma Gun karena aku memang terlalu menutup diri sama orang baru, terlalu berlebihan gak kalau aku bilang Gun satu-satunya hal yang aku syukuri saat aku masuk ke SMP negeri.”

“Aku bisa berteman sama siapa aja, tapi aku gak bisa atau lebih tepatnya gak mempersilahkan mereka untuk bisa benar-benar kenal aku.”

“Sebelum pindah di rumah yang sekarang, aku bahkan gak pernah ngajak satu orang pun teman sekolahnya aku untuk main kerumah, termasuk Gun. Karena aku gak mau mereka tau bagaimana sifat Ayahku.”

“Aku durhaka gak sih Ta karena semenjak kejadian di malam ulang tahun itu aku gak pernah lagi manggil beliau Ayah di depannya. Karna aku tuh kesel, aku marah, aku kecewa, kenapa harus marah di luar padahal setiap hari udah marahin Ibu di rumah.”

“Malu banget rasanya udah kayak gak ada muka. Pun dengan sampai sekarang aku gak pernah mau lagi menginjakkan kaki aku di restaurant itu.”

Usapan dibagian bahu si manis membuatnya menoleh ke samping, “Teta kasihan sama aku?”

“Enggak, aku gak mengasihani kamu. Kamu bisa berhenti sampai di sini kalau kamu mau.”

“Kenapa? Cerita aku banyak dramanya ya?”

“Kamu boleh lanjut, kamu boleh bagiin ke aku apa yang ingin kamu bagi.” Yang lebih tua bersuara, lagi.

“Gak jelas banget kamu, tadi nyuruh berhenti sekarang nyuruh lanjut.” Omel Thitipoom sembari terkekeh pelan.

“Aku lanjut ya?”

Setelah anggukan dari Tay terlihat, pemuda berkulit seputih salju itu kembali bersuara, “Aku tuh dulu heran banget kenapa Ibu masih mau bertahan sama Ayah, sampai aku tau alasannya kenapa.”

“Ibu mikirin anaknya, Ibu mikirin aku. Seharusnya sebelum Ibu mikirin aku, Ibu terlebih dahulu harus memikirkan dirinya sendiri. Ibu bilang Kalau Ibu sama Ayah udah gak sama-sama, nanti kamu kehilangan arti dari kata keluarga padahal dengan mereka memaksakan diri untuk bersama pun aku udah gak tau arti keluarga itu kayak gimana.”

“Maaf banget ya Thi, jadi Ibu sama Ayah kamu tuh pisah kan?”

Thi langsung mengangguk dua kali, membenarkan ucapan lelaki yang berada di sebelah kirinya. “Bener-bener pisah itu aku kelas dua SMA.”

“Sekarang aku udah berdamai sama masalalu, makanya aku bisa nyeritain semuanya ke kamu, aku udah gak lagi nyalahin Ayah, tapi buat ketemu sama beliau rasanya canggung banget.”

“Tujuanku dulu tuh cuma untuk nyenengin Ibu, tapi sekarang kayaknya bakalan nambah satu.”

“Nyenengin Ibu dan kamu.”

•••

[Bincang]

•••

Sepasang netra hitam pekat sang empu berhenti mencari ketika pandangannya terjatuh pada pemuda berkaos longgar yang tengah asik dengan makanan di depannya, ujung-ujung bibirnya melengkung ke atas membentuk sebuah senyuman manis ketika pipi kekasihnya menggembung lucu-mengunyah makanannya.

Tay melepas jaket kulit yang melekat di tubuh atletisnya, meletakkan jaket itu di atas kursi meja makan, kehadiran yang lebih tua baru disadari oleh lelaki manis berkulit seputih salju itu, ia meletakkan kembali sebuah cireng yang berada di tangannya tak lupa mengambil beberapa tissue untuk dirinya sendiri.

“Teta kok gak bilang-bilang udah di sini?”

“Kamu aja yang gak denger aku masuk, asik sendiri sih.”

Kekehan renyah terdengar di telinga yang lebih tua, sepasang iris hitam pekat itu tak lepas mengamati wajah indah kekasih hatinya, Tay teramat suka melihat Thititpoom-nya, kedua mata pemuda itu menyipit dengan deretan gigi rapi terlihat ketika gelak tawanya terdengar, atau mengerucutnya bibir merah muda lengkap dengan lirikan sinis ketika ia sedang dalam keadaan merajuknya, Tay suka semua tentang pemuda berpipi gembul yang berada di depannya ini.

“Teta jangan dimakan.”

Terlambat sudah, yang lebih tua memasukkan bola putih itu kedalam mulutnya, Thi menatap sang kekasih dengan eksrpresi harap-harap cemas, “Keras banget, kan?” cicitnya.

Tay mengangguk setuju, cimol goreng buatan pemuda berkulit seputih saljut itu benar-benar keras, rasanya juga cenderung hanya pedas, dan “Kamu kebanyakan bubuk bawang putihnya Thi.” Tay berucap.

“Iya kah?”

Yang lebih tua mengangguk tangan kanannya terulur untuk mengambil cireng kemasan yang sudah di goreng Thi sebelumnya, “Yang ini enak.” Ia kembali bersuara.

Thi mengangguk setuju kali ini, “Emang enak Taa, aku mau marah juga gak bisa.” Jawab yang lebih muda, iris kelabu pemuda itu menatap sebuah mangkok berisikan cimol keras buatannya, ekspresi sedih cenderung menggemaskan itu membuat yang lebih tua tak tahan lagi, ia berjalan beberapa langkah mendekati lelakinya-kedua tangannya langsung menangkup pipi gembul sang empu, meremasnya pelan-pelan, “Gak usah sedih, gagal itu wajar sayang. Ayo kita bikin bareng-bareng.”

•••

“Oh bubuk baputnya segitu aja toh, kalo aku tadi lebih banyak dari kamu sih.” Thi berucap dengan mulut penuh berisikan buah mangga.

Ucapan Tay soal mereka yang akan memasak bersama adalah sebuah hal yang tak benar adanya, karena yang dilakukan pemuda beriris kelabu itu hanyalah mengupas dua buah mangga, memotongnya kecil-kecil lalu duduk di sebelah kompor menemani sang kekasih.

Tay menerima suapan sepotong mangga dari Thitipoomnya, “Manis banget kan Om mangganya.” Thi berucap.

“Mulai Thi mulai.”

Gelak tawa yang muda terdengar, menggoda Tay tawan adalah sebuah keharusan untuk dirinya.

“Teta tuh bisa masak apa aja ya.”

“Aku pernah bikin rendang lho pas Sma.” Tay berujar sembari kedua tangan berbalut sarung plastik itu tak berhenti bergerak-membentuk adonan bulat-bulat sempurna.

“Oh ya? Gimana rasanya?”

“Kata almarhumah Ibu sih enak. Jadi dua bulan setelah bapak meninggal tuh Ibu mulai sakit-sakitan Mbul, Mba Muk kuliah di luar kota, Mas Rendra lagi sibuk-sibuknya sama kerjaannya dia, jadi yang punya waktu kosong lebih banyak tuh cuma aku kan.”

Yang muda menaruh seluruh perhatiannya pada Tay, mendengarkan cerita sang kekasih yang belum pernah ia ketahui, Tay tawan terlalu tertutup tentang keluarganya, dan Thi tak ingin bertanya yang membuat sang kekasih tak nyaman. Thitipoom mau, Tay tawan sendirilah yang bercerita tanpa harus ia tanya kenapa.

“Pulang sekolah sebelum kerumah sakit aku masak dulu buat Ibu, soalnya beliau gak suka makanan rumah sakit, kata Ibu gak ada rasanya, Tapi kadang resep-resep masakannya aku tanya sama Mba Muk sih hahaha. Soalnya dulu Ibu sama sekali gak make orang buat bantu-bantu di rumah.”

“Kamu tuh hebat, mandiri banget.”

“Kepaksa keadaan sih yang.” Tay menyahut.

“Gak lama Ibu nyusul Bapak kan Mbul, mana besoknya pengumuman SBMPTN dan aku gak lolos, ancur banget pas itu. Berakhir aku nganggur setahun.”

“Teta ngapain aja setahun itu?”

“Setahun itu aku pake buat kerja, dulu pernah kerja di minimarket, jadi guru les, apa aja deh, dan sebelum tidur aku usahain buat belajar dikit aja. Jadi uang yang kekumpul selama setahun tuh bisa buat bayar kost-an sama kuliah.”

“Padahal Teta bisa tinggal bareng mas Rendra atau mba Muk.”

“Ibu tuh pernah bilang ke aku, sebaik apapun manusia dia pasti punya waktu gak pas-nya. Tinggal sama orang tuh pasti ada gak enaknya walaupun dia kakakmu sendiri, jadi daripada ada kejadian yang gak di inginkan mending aku ngekost aja, eh malah ketemu si Jumpol.”

“Alasan aku kerja juga biar aku bisa ngehidupi diriku sendiri tanpa minta sama Mba atau Mas, tanpa ngambil uang yang ditinggali bapak sama Ibu, karena kalau seandainya aku kuliah dan gak jadi orang, gak ada yang bisa bilang percuma kuliah tapi gak bisa jadi apa-apa, ngabisin uang orang tua aja karena aku kuliah pake uangku sendiri.”

“Itu pikirannya aku dulu, gak bisa di samain sama orang lain, ini cuma pikiran seorang Tay tawan.” Tay berujar begitu panjang.

“Pas jaman kuliah Teta ada cerita apa aja?”

Tay menoleh kearah kekasihnya dengan tangan kanan tak berhenti mengaduk cimol yang berada di penggorengan.

“Kalo mas atau mba nanya ada uang kan aku selalu bilang ada, padahal mah gak ada hahaha, aku inget deh Thi pas aku sama Jumpol lagi bener-bener miskinnya pas itu sampe beli nasi bungkus enam ribu dibagi dua.”

“Kalau mba sama mas ngirim uangnya kamu pake?”

“Iyalah hahaha, tapi aku gak pernah minta ke mereka. Jumpol tuh kalo habis dapet uang dari Papanya, pulang pasti ada aja tentengannya, mana dia pernah beli sate seratus tusuk malem jumat Mbul.”

Gelak tawa yang lebih muda pecah seketika membayangkan lelaki bermata sipit itu, “Bang Jum emang seaneh itu ya Ta dari dulu.”

“Emang aneh dia makanya kita temenan sampe sekarang, dia tuh juga nganggur setahun sama kayak aku, bukan karena dia gak lolos SBMPTN, tapi dia gak lewat tes polwan.”

“Polisi Teta.”

“Lah salah Jumpol sendiri, dia bilang ke aku Gue gak lewat polwan Tay, nyangkut di kesehatan begitu.”

Yang muda kembali tertawa.

“Jadi sekarang aku boleh nanya sama kamu?” Tay berucap sembari meniriskan cimol gorengnya, melangkah mendekati sang kekasih-berdiri tepat di depan Thitipoom-nya, menatap iris kelabu sang pemilik dalam-dalam, hingga sebuah anggukan dari yang lebih muda terlihat.

“Kenapa mau sama aku?”

Pemuda berkulit cerah itu mengulas senyum begitu manis, perlahan tangan kanannya terulur untuk mengelus pipi lelaki yang berada di depannya dengan penuh perasaan, penuh kasih sayang.

“Kenapa aku harus gak mau sama kamu?” Bukannya menjawab ia melempar pertanyaan.

“Kebiasaan,” Tay menyentil dahi tertutup poni rapi itu hingga sebuah ringisan pelan tercipta dari yang muda, “Kalau ditanya pacarnya tuh dijawab, bukan nanya balik, gembul”

“Kalau kamu tanya kenapa aku mau sama kamu, jawabannya aku gak tau. Aku sendiri aja gak tau alasan kenapa aku jatuh sama manusia sejenis kamu, karena kalau boleh jujur sebelum aku nekat buat nembak kamu dua tahun yang lalu, setiap malamnya aku selalu nanya ke diriku sendiri apa alasan aku jatuh sama pesona kamu, sampai di mana aku kelimpungan atas apa yang ada di kepala.”

“Dan sebenarnya aku gak butuh alasan apa-apa, karna kalau udah jatuh, aku gak lagi mau jauh, dari kamu.”

“Teta mau tau gimana perasaan aku setelah dengar cerita kamu barusan?”

Kedua alis pria berkulit tan itu naik-turun menunggu jawaban yang akan keluar dari mulut kekasihnya, orang yang memiliki tahta tertinggi di hatinya untuk hari ini, esok, seterusnya, dan selamanya.

“Setelah tau cerita kamu tadi, aku malah makin cinta.”

“Dih hahahaha, Mbul-Mbul bahasa mu itu loh.” Tay terkekeh pelan hingga bibir yang lebih muda maju beberapa senti, Thitipoom-nya cemberut.

“Orang bicara jujur juga, Teta tuh emang gak bisa diajakin romantis. Dasar orang tua.” gerutu si manis.

“Gini-gini juga kamu cinta sama aku.”

“Ucapan kamu gak tepat Ta.”

“Terus yang tepat apa? Thi?”

“Cinta mati.”

Usai jawaban Thi terdengar, tawa keduanya kompak meledak memenuhi dapur milik si manis. Kedua tangan Tay menangkup sisi wajah kanan-kiri si manis, sontak membuat gelak tawa Thi mereda berasamaan dengan matanya yang mengerjap lucu berulang kali.

Seulas senyum manis langsung terukir di wajah pemuda berkulit seputih salju itu tak kala sebuah kecupan berdurasi sepuluh detik mendarat di dahinya, lalu turun di kedua mata, hidung, kedua pipi, dagu, dan terakhir di bibir merah mudanya, kali ini yang lebih tua tak hanya mengecupnya saja, di berikannya juga lumat-lumatan kecil di sana, kelopak mata keduanya langsung tertutup tak kala ciuman itu semakin mesra dirasa, kedua tangan Thi langsung bergerak untuk menekan tengkuk yang lebih tua-bermaksud memperdalam pagutan mereka.

Beberapa menit setelahnya pagutan itu terlepas bersamaan dengan saling berkejar-kejarannya deru napas, jemari-jemari lentik si manis kembali mengelus wajah sang kekasih, seulas senyum mengembang sempurna pun kembali ia tampilkan.

“Senyum centil.” Tay bersuara.

“Cimolnya udah dingin Thi.”

Pemilik iris kelabu itu menoleh ke kanan, menatap cimol buatan Tay tawan, “Gak apa-apa Tetaa, ntar tinggal di taro bubuk cabe aja udah enak. Makasih banyak ya.”

“Tetaa.” Thi kembali bersuara setelahnya.

“Saya.”

“Cimolnya emang udah dingin, tapi sekarang aku yang panas.”

•••

-Joya-

•••

“Kak Thi ntar main kerumah aku ya, ya, ya.” Pinta seorang gadis kecil berambut panjang tergerai indah yang tengah menarik-narik tangan kanan Thitipoom agar pemuda itu meng-iyakan ucapannya.

“Gak boleh! Kak Thi harus kerumah Arzetha juga!”

“Zetha kamu main sama bang Abyan aja dong, kan kamu punya abang.”

“Lah kamu sendiri juga punya abang, Keyshi!”

Thitipoom terkekeh pelan mendengarnya, lantas ia berjongkok-mensejajarkan dirinya dengan tinggi keponakan-keponakan sang kekasih, lalu berujar, “Jangan berantem dong, nanti kita main sama-sama, oke?”

Dengan mudahnya dua anak manusia yang sebelumnya bertengkar itu mengangguk bersamaan, melempar senyum manis setelahnya, “Kak Thi janji ya, kalau entar Om Tay kerumah Eyang kak Thi harus ikut ya?” Gadis bernama Keyshi itu kembali berucap namun belum sempat Thitipoom menjawab pria berkulit tan yang tengah duduk santai di atas sofa ruang keluarga itu menjawab, “Iya ntar Om bawa kak Thi, udah malam besok harus sekolah, ayo pulang kerumah masing-masing.”

“Kami berempat gak bakal pulang kalau amplop seperti biasa belum ditangan.”

Tay menghela napas pasrah, lalu berbisik pada kakak perempuannya, “Keponakan gue semuanya mata duitan.”

“Mereka tau sih Om-nya kaya raya, tanggungan lo juga ​belom ada.”

•••

Pemilik netra hitam pekat itu tak melepaskan pandangannya barang sekejap pada pemuda berkulit putih bersig yang tengah memakan es-krimnya dengan begitu santai di meja makan, selepas kepergian keluarga Tay beberapa menit yang lalu dua anak Adam ini benar-benar bungkam.

“Mau lagi es-krimnya?” Tay bertanya, menghapus kesunyian yang sempat tercipta.

“Lho emang bisa ngambil es-krim di kulkas? Orang tadi siang aja kamu makan disuapin mantanmu.”

“Thi.”

“Udah kamu tidur aja gih, aku habis makan es-krim mau pulang.”

“Gak boleh.” Larang yang lebih tua lengkap dengan gelengan kepalanya.

Salah satu alis pemuda berkulit putih bersih itu terangkat, “Kenapa gak boleh?” Ia bertanya.

“Kamu nginap di sini.”

“Kalau aku gak mau gimana?”

“Yaudah aku antar kamu pulang, ya?”

“Ini nih Teta, terlalu baik sama siapa aja. Itu salah satu kelebihan dan kekurangan kamu.” Thitipoom berujar.

“Boleh aku jelasin dari awal?”

“Boleh.”

“Thi mau di kamar aja kah?” Yang lebih tua kembali bertanya, nadanya masih sama, amat-sangat lembut masuk ke indra pendengaran.

“Enggak, kamu kalu habis berantem pasti ujungnya tidak lain dan tidak bukan, jelasin di sini aja.”

Tay terkekeh pelan mendengar jawaban kekasih hatinya, lantas bangkit dari tempat lalu berjalan mendekati pemuda itu, ia mendaratkan bokongnya di kursi sebelah Thitipoom.

“Singkatnya, tadi tuh awalnya yang mau nyuapin aku si Alice, tapi Namiee langsung ngambil alih, tiga curut langsung ngeliatin aku tapi mau gimana Thi aku beneran gak enak kalo ngelarang dia, aku gak mau dia malu di depan banyak orang.”

“Cuma tiga suap, sayang. Terus aku minta piringnya sama Namiee kalo aku bisa sendiri setelah aku perhatiin kalau aku dan Namiee bukan lagi jadi bahan tontonan, aku langsung bilang ke dia kalo aku bisa sendiri.”

“Cuma semalam aja Tetaa, aku cuma semalam sama Singto setelah itu pulang. Marah gak?” Thitipoom bertanya.

“Maaf.”

“Kamu selalu bilang maaf dan besok kamu ulangin semuanya, semuanya Teta. Kamu tau banget aku bukan orang yang gampang bener-bener cemburu, tapi dia pengecualian.”

“Aku bener-bener gak suka, gak suka perhatian kamu diambil sama dia.”

“Sama kayak Teta yang gak suka sama Singto, begitu juga aku yang gak suka sama mantanmu.”

“Kalau kamu sadar, selepas Teta bilang kalau Tetaa gak suka sama Singto, Teta cuma bilang gak suka, gak ada maksud buat ngelarang, tapi aku langsung ngejauh dari Singto. Karena apa? Karena aku tau Teta suka gak percaya diri kalau berhubungan dengan lelaki itu.”

“Tapi, cemburunya aku kamu anggap sepele banget ya.”

“Udah?”

“Teta tuh sebenarnya belum move-on ya sama Namtan?” untuk pertama kali nama seseorang yang tak pernah ia sebut terucap dari mulutnya, pemuda itu menghela napas cukup panjang menatap kekasih hatinya.

“Kalau aku belum melupakan dia, gak mungkin aku macarin kamu.”

“Bisa aja, kenapa gak mungkin? Aku pernah dengar beberapa pendapat temen kuliahku kalau beberapa orang memang butuh orang lain untuk melupakan orang sebelumnya gak menutup kemungkinan kalo Teta salah satu dari orang itu.”

“Mau banget mulut mu itu aku cium biar diem.”

“Coba aja kalau mau bibir kamu besok bengkak karena aku pukul pake gelas ini.” tandas yang muda sembari menggenggam sebuah gelas kaca berisi air putih.

“Thi masih mau marahin aku kah?”

“Masih, biar kamu gak sepele sama cemburunya aku.”

“Aku minta maaf Cantik, maaf udah sepele sama cemburunya kamu, maaf karena bikin Thi jadi cemburu, maaf.”

“Aku maafin, tapi ancaman tadi sore masih berlaku.”

“Iya Mbul.” Tay menjawab patuh.

“Jangan iya-iya aja Teta!”

“Iya ini yang terakhir bikin kamu cemburu sama mantanku, ini terakhir kali aku meng-iyakan apa-apa yang dibilang sama Namiee.”

“Kalau ingkar?” Pemuda berkulit putih itu bertanya dengan kedua tangan berada di depan dada, menunggu kekasihnya itu menjawab.

“Gak bakal nolak kalau kita ada jarak.”

Gelengan yang lebih muda terlihat, “Bukan ada jarak Teta, tapi kita usai.”

Tanpa sadar seulas senyum manis terukir menghiasi wajah tampan yang lebih tua, lantas ia mengangguk setuju dan menarik lelakinya kedalam sebuah pelukan paling nyaman yang ia punya, yang hanya ia berikan pada Thitipoom seorang.

“Aku gak suka kamu deket-deket sama dia.”

“Iya Mbul, gak akan deket-deket lagi.”

Pemilik iris kelabu berkilau itu menengadah-mengamati wajah tampan kekasihnya dari bawah, sebuah lengkungan indah perlahan-lahan hadir, manis sekali.

“Mulai senyum centilnya.”

“Sialan banget, gak bisa aku ngambek lama-lama sama kamu, Tetaa.”

Keduanya tertawa, mendadak melupakan segala pertikaian yang baru saja terjadi, si manis sudah asik kembali pada semangkok es-krim di meja, sedangkan yang lebih tua memutuskan untuk mengamati segala gerak-gerik lelaki tercintanya.

“Teta coba deketan deh, mataku kayaknya kelilipan.”

Tay langsung menurut, mengikis jarak diantara keduanya, mengamati iris kelabu sebelah kiri kekasihnya dengan seksama, namun sebuah kecup mesra di bibir diberikan oleh yang lebih muda, untuk Tawan-nya.

“Jangan nakal Mbul.” peringtan dari yang lebih tua membuat si manis mengangguk patuh, lantas melanjutkan kegiatan menyantap es-krimnya.

“Teta gak mau cium aku?”

Tay menaikkan salah satu alisnya lengkap dengan seringaian bibir yang terukir, “Kamu lagi pengen ya?”

Lelaki manis itu hanya mengulas senyum manis sebagai jawaban atas pertanyaan yang diberikan oleh Tay tawan. Ia beranjak dari tempatnya, beralih duduk di atas pangkuan kekasihnya.

“Kamu ganteng banget, tapi suka bikin aku ngambek.”

“Thi lagi mau ya?”

“Kalau iya emang kamu mau apa?” Thitipoom bertanya bersamaan dengan jemari telunjuknya yang bermain-main di wajah yang lebih tua.

“Kamu mau-nya aku gim-”

Ucapan Tay tak selesai karena seseorang yang tengah berada di pangkuannya mulai menyatukan kedua bibir mereka. Tay tersenyum di sela cumbuannya, terlihat jelas jika yang lebih tua sedang berupaya mendominasi dirinya.

Pagutan keduanya terlepas, deru napas saling berkejar-kejaran bersamaan dengan terbukanya kelopak mereka dengan bersamaan, sepasang netra itu saling menemukan pemiliknya, jatuh dalam tatap.

Kekehan renyah si manis terdengar ketika Tay mulai mengangkat tubuhnya, mendudukkannya di atas meja makan, sebuah geraman tertahan langsung terdengar di telinga tak kala tangan kanan begitu nakal milik Thitipoom mulai mengusap bagian paling privasi yang lelakinya miliki.

“Kamu nakal.”

Usai dua kata itu terucap, Tay kembali memagut kekasihnya, dan Thitipoom dengan senang hati menerima segala perlakuan matahari-nya. Hingga pagutan itu terlepas Tay telihat jelas tak ingin jauh dari Thitipoom, hingga sebuah dorongan dari si manis membuat kedua alis yang lebih tua terangkat sempurna.

“Aku mau pulang.”

“Are you fuckin kidding me, Thitipoom?”

Pemuda bernama Thitipoom itu menggeleng pelan bersamaan dengan beranjaknya ia dari tempatnya, berdiri tepat di depan sang kekasih hati, membenarkan pakaiannya agar kembali rapi, “Apa aku keliatan bercanda Teta? Aku beneran mau pulang.”

“Tapi aku udah-”

Perlahan tangan milik yang muda mengelus pipi kiri Tay dengan begitu lembut lalu menepuknya dua kali dengan perlahan, “Kamu udah gede Tetaa, punya dua tangan pula, mandiri dong.” Potong Thitipoom lalu berjalan menuju pintu utaman dari apartemen milik kekasihnya.

Sebelum benar-benar pergi ia kembali bersuara lengkap dengan sebuah senyum paling manis yang ia tampilkan untuk mataharinya itu, “Makanya lain kali Teta jangan bikin aku kesel, selamat malam, Ganteng.”

•••

-Joya-

[Syarat mutlak]

•••

Perkara dekat yang tak mempunyai status apa-apa memang acap kali terjadi di bumi, dan itulah yang sedang rasakan oleh pemilik iris kelabu yang tengah menyesap es kopi yang berada di genggaman tangan kanannya.

Sepasang netra berkilau itu berkali-kali melirik kearah pintu kamarnya, terlihat jelas jika ia sedang menanti kehadiran seseorang sedari tadi, hingga sebuah helaan napas panjang terdengar memecah kesunyian, “Awas aja sampe jam sepuluh gak dateng juga, gue susulin.” ia berucap setelahnya.

Kesepuluh jemarinya mulai membereskan kekacauan yang ia perbuat ketika sedang mengerjai tugas kuliahnya, begitu banyak kertas berserakan di bawah ranjang, laptop yang di biarkan menyala sejak tiga jam yang lalu, dan dua gelas kopi yang berada di atas nakas, tak lupa berbungkus-bungkus camilannya.

“Gue dari sore di kamar niatnya mau nyelesain tugas, selesai enggak n